Stiker dan Baleho Monoton, Bikin Bosan. adakah yang Artistik ?

>> Sabtu, Januari 03, 2009

Pemilu legislatif tinggal beberapa bulan lagi dilaksanakan. Para calon legislatif bermunculan, tumbuh kayak jagung di musim tanam, buanyak sekali. Saking banyaknya kita dibuat pusing. Wajah-wajah caleg bertebaran di mana-mana. Yang ganteng, yang cantik, juga yang pas-pasan. yang pakai songkok, yang pakai jas, juga yang pakai serban. Yang ada kumisnya, yang ada jenggotnya, yang ada kedua-duanya, dan yang kelimis samasekali.

Media yang kerap dipakai kampanye tergolong usang, stiker dan baleho. Katanya sih cukup efektif mengenalkan diri ke publik. Saya kurang paham juga, jadi caleg kok baru berpikir mengenalkan diri. Mestinya kalau memang merasa tidak dikenal publik, bok ya gak usah nyalon saja sekalian. Bagaimana masyarakat tahu komitmen dan sumbangsih yang sebelumnya dilakukan sebagai gambaran awal dari adanya komitmen mewakili masyarakat, wong sama wajah dan namanya saja, kadang, masyarakat tak kenal? Aneh ya dunia ini.

Termasuk di Sumenep, kampanye via stiker nampaknya sudah menjadi rukun wajib dalam kampanye. Mungkin hanya beberapa orang saja yang tidak menggunakan media itu. Itu pun kadang, dilatarbelakangi efisiensi anggaran—mungkin bahasa lainnya gak punya uang.

Pada awalnya, saya tak terlalu peduli dengan stiker yang beretebaran di tembok-tembok dan tiang listrik itu. Hingga pada suatu hari sekembalinya dari Lombang, saya terpaksa merasa bosen dan jemu dengan stiker, apalagi baleho yang guedenya minta ampyun itu. Saya sempat berpikir, ngapain harus ada stiker dan baleho? Kalau bukan mereka cuma mau nampang aja. Hh…kayak anak muda yang gemar nongkrong di pinggir jalan aja. Cuma gaya mereka yang di stiker-stiker dan baleho itu aja yang kelihatannya cukup elegan dan berwibawa. Saya pikir, gambar—dalam tanda kutip—mewakili orangnya. Nah, kalau gambar itu di pasang di pinggir jalan, di pasar, di tempat rekreasi, dan di tempat tongkrongan, berarti mereka yang ada di stiker dan baleho itu sebenarnya juga lagi nongkrong, lagi nampang, dan sok cari muka juga. Masih mending kalau dipasang di majalah, Koran, atau website.

Terus terang saya jemu dan—bolehlah dibilang—benci lihat gambar caleg itu. Apalagi dibumbui dengan macem-macem slogan dan gambar latar yang kebanyakan terlalu berlebihan dan mengada-ada. Bagaimana enggak, gambar calegnya keciii…l banget, nah yang gede malah gambar kiai dan tokoh-tokoh yang—katanya—mendukung dia itu. Bukankah itu sikap pragmatis yang hanya mementingkan kepentingan sesaat guna meraup suara terbanyak saja. Nampaknya mereka-mereka itu tidak berpikir bahwa sikap demikian adalah bentuk dari pembodohan massal. Saya pikir, para caleg ‘kan lebih berpendidikan—katanya. Bok ya caranya kampanye juga pakai yang lebih berkeadilan dan tidak membodohi orang gitu loh. Sebagai orang Madura mestinya lebih punya prinsip, kalau benar-benar tidak dipercaya masyarakat, ya..tahu diri lah. Jangan maksain diri gitu. Kan kalau memaksakan diri, terus gak jadi, justru malah malu yang ditanggung.

Menurut saya, pertimbangkan lagi kalau mau masang muka di pinggir jalan. Takutnya gambar itu dicoret-coret sama anak kecil—dikasih kumis, dikasih jenggot, dikasih gigi taring kayak drakula, dan semacamnya. Kelihatannya kan bukan berwibawa tapi malah jadi lucu. Kalau pun terpaksa masang stiker dan baleho karena pengen terkenal, ya di tempat-tempat tertentu saja lah. Jangan bikin borring banyak orang lah gara-gara liatin muka masam dan sok garang dengan latar yang menjemukan dan gak nyeni gitu. Belum lagi masalah perizinan ketertiban kota. Meski pun sudah biasa baliho produsen sebuah produk dipasang di tempat umum tanpa izin, tapi kan gak wajar kalau baleho caleg yang katanya berpendidikan itu dipasang tanpa izin di sembarang tempat.

Comments
8 Comments

8 KOMENTAR:

Hazmi 4 Januari 2009 04.29  

untungnya saya tidak menebar baliho sehingga tidak tersinggung. he he, o ya untuk polling cabup, sebaiknya jangan asal menampilkan orang. masak yang kelas kecamatan harus nampang juga.

Anonim 4 Januari 2009 05.09  

Emang segalanya serba dibikin instan dengan hanya menerbitkan stiker-stiker doang, adakah cara yang lebih praktis untuk melakukan pendidikan politik?

TABRI SYIFULLAH MUNIR 4 Januari 2009 06.05  

untuk Hazmi) dalam memberikan nama-nama cabup dalam polling kami sebenarnya menyaring 60 nama yang kami survei, dan nama yang muncul tersebut adalah nama-nama yang tertinggi pada survei yang kami lakukan pada medio september-oktober.
Untuk survei pada medio minggu ketiga Desember - Januari ada nama-nama baru yang muncul dan relatif mampu menggeser nama-nama yang sudah ada, untuk selengkapnya postingnya akan kami sampaikan pada tanggal 10 Januari.
Peletakan nama Cabup oleh kami tergantung dari seberapa besar suara yang dihasilkan dari pengumpulan kuesioner kami.

partelon 30 Januari 2009 06.04  

"Saya pikir, gambar—dalam tanda kutip—mewakili orangnya. Nah, kalau gambar itu di pasang di pinggir jalan, di pasar, di tempat rekreasi, dan di tempat tongkrongan, berarti mereka yang ada di stiker dan baleho itu sebenarnya juga lagi nongkrong, lagi nampang, dan sok cari muka juga. Masih mending kalau dipasang di majalah, Koran, atau website. "
Maaf, Mas2. Sy awam politik. Tp ada beberapa dari kalimat di atas + di artikel full-nya yang bikin isykal saya:
1. Jika ada calon pemilih yg gak bisa langganan koran, majalah apalagi buka website, apa gak kasian jika mereka gak dpt kesempatan tau calon-calon mereka (yang emang serius pingin milih calon, bukan sekedar cairan)?!
2. bgmana jika diantara caleg2 yang mas kritisi gambarnya habis2an itu ada yang ta-addzaa dengan artikel sampyn2? Palagi jika diantara mereka ada yang benar-benar ngopeni ummat; katakanlah siang kampanye, malm mulang safinah? ato bahkan ada yang intisab pada guru2 kita?
3. Apa kalimat2 di atas (yg saya kutip) tidak berlebihan, Mas?
Maaf, bukan bermaksud menggurui, hanya sekedar mohon penjelasan... trims.

partelon 31 Januari 2009 01.23  

Maaf saya tidak ngirim 2 comment yang kemarin lwt nomor2 HP Anda dkk, karena siapa tau ada yang punya ke-isykalan spt saya, sehingga jawaban Anda (semoga) bisa jadi maslahat bagi yang lain. btw, saya Zainurrahman Hammam, tinggal di Partelon.

Asmisya 2 Februari 2009 03.58  

Sama dengan kak Apiek, saya nggak tersinggung karena tanpa baliho, bahkan tanpa apapun...

Menurut saya juga pemborosan, lebih baik kampanye dlm bentuk riil saja. Manfaat akan lebih terasa oleh pemilih.

salam,
achoe SUNHIYAH, caleg DPR-RI
No. urut 7 dari PPP Dapil Madura

Asmisya 2 Februari 2009 04.32  

Sama dengan Kak Apiek, gak tersinggung karena saya juga tidak menebar baliho.
bagi saya, baliho dan poster gede-gedean hanya pemborosan saja, mending uangnya utk kampanye yang lebh riil saja, bisa bermanfaat juga bagi pemilih. yg penting tentu jadi pertimbangan utk dipilih

salam
achoe SUNHIYAH
Caleg DPR-RI No.urut 7 dari PPP
Dapil Madura

partelon 3 Februari 2009 19.17  

Insya' Allah koment ini bukan masalah tersinggung atau tidak (krn sama sekali ga punya kpntingan), krn soal pro-kontra baliho n stiker, sy maklum. Sy hanya isykal pada pemilihan kata dan kalimat dlam artikel di atas dan sebelumnya; kok terkesan memvonis, gitu. Saya mendukung blog ini sbg pancerahan bagi warga awam politik seperti sy agar istiqomah n sesuai dengan 'tagline' "Media yang mengkhususkan pada sumbangsih pemikiran yang disertai dengan analisa-analisa politik sumenep", bukan "dengan analisa pribadi disertai rasa benci, boring, dan bosen". Trims.

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP